Pages

Minggu, 30 Desember 2012

Hati Yang Selamat

Hati selamat yang terhindar dari azab Allah SWT adalah hati yang pasrah dan menerima perintah-Nya, yang tidak lagi ada penentangan terhadap perintah dan wahyu-Nya. Tidak ada yang memenuhinya kecuali Allah SWT. Tidak ada yang ia inginkan selain Allah SWT. Ia hanya menunaikan apa yang diperintahkan Allah SWT. Hanya Allahlah yang ia tuju, hanya perintah-Nya yang ia tunaikan, dan hanya aturan-Nya yang menjadi cara serta jalan hidupnya. Tidak ada sedikitpun keraguan yang mejadi penghalang antara ia dan keimanan terhadap wahyu-Nya. Bahkan setiap kali keraguan itu terlintas, ia pun tahu bahwa keraguan itu tidak akan membuatnya tenang. Juga tidak ada hawa nafsu yang mampu merintanginya untuk mencari ridha Allah SWT. Ketika hati sudah demikian keadaannya, maka ia bersih dari kemusyrikan, bid'ah, kesesatan, kebatilan, dan semua hal yang sejalan dengan hal-hal tercela tersebut. Pada hakikatnya, hati yang selamat adalah hati yang berserah diri kepada Tuhannya, yang menyembah-Nya dengan penuh rasa malu, penuh harap dan penuh hasrat. Dengan demikian, ia lebur dalam cinta kepada Allah SWT, dan bersih dari segala sesuatu selain Dia. Ia lebur dalam rasa takut kepada-Nya, dan tidak ada rasa takut kepada yang lain. Ia lebur dalam pengharapan kepada-Nya, dan tidak mengharapkan selain Dia. Ia menerima segala perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dengan penuh keimanan dan ketaatan. Ia berserah diri kepada qadha dan qadar-Nya, sehingga ia tidak berprasangka buruk, menentang dan marah terhadap segala ketetapan-Nya. Ia berserah diri kepada Tuhannya dengan penuh kepatuhan, kerendahan, kehinaan dan kehambaannya. Ia menyerahkan segala perkataan, perbuatan, perasaan dan intuisi, baik lahir maupun batin, kepada tuntunan Rasul-Nya dan menolak segala sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan itu. Jadi apa yang sejalan dengan tuntunan Rasul saw. dia terima dan apa yang bertentangan ia tolak. Sedangkan sesuatu yang tidak jelas, apakah sejalan atau bertentangan, maka ia akan menunda dan menghindarinya sampai hal itu menjadi jelas. Ia tidak berseberangan dengan para wali dan golongan Allah SWT yang beruntung, yang membela dan menegakkan agama dan sunnah Nabi-Nya. Ia melawan musuh-musuh Allah yang menentang Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Yaitu, orang-orang yang keluar dari jalan yang lurus dan mengajak orang lain untuk menentang Al-Qur'an dan as-Sunnah.

0 komentar:

Poskan Komentar